HOME  SERVICES  KATALOG  DOWNLOADS  SUPPORT

    


Translate / Pilih Bahasa :
         


 
 
 

ARTIKEL :



 

 

 

 

 

  1. Dissolved Oxygen ( Oksigen terlarut )

    Oksigen dan sianida sangat diperlukan pada proses sianidasi bijih emas, karena kecepatan reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi kedua senyawa ini. Kebutuhan oksigen terlarut tergantung jenis mineralnya, pada umumnya semakin tinggi oksigen terlarut maka reaksi juga semakin cepat, demikian juga sebaliknya. Tetapi berdasarkan teori limiting rate didapatkan bahwa perbandingan sianida dan oksigen dalam larutan adalah tetap yaitu 6 (enam). Karena laju difusi antara sianida dan oksigen terlarut yang seimbang, sehingga apabila konsentrasi sianida berlebih maka yang menentukan kecepatan reaksi adalah kelarutan oksigen, demikian pula sebaliknya. Oleh karenanya, pada proses sianidasi perlu dikontrol konsentrasi oksigen (Dissolved Oxygen / oksigen terlarut) dan konsentrasi sianida bebas (free cyanide) di dalam larutan, agar dicapai persen ekstraksi yang tinggi, Karena tidak ada manfaatnya meningkatkan konsentrasi sianida tetapi ternyata konsentrasi oksigen di dalam larutan rendah. Jumlah oksigen terlarut yang optimal dalam proses leaching sebaiknya dijaga antaral 8 - 12 ppm.

aerasi

    Air normal pada umumjnya  memiliki oksigen terlarut 8-9 ppm yang ada di dalamnya,  namun apabila oksigen ini digunakan oleh reaksi lainnya (misanya dengan hadirnya mineral oxygen consumer) tentu akan menurunkan konsentrasi oksigen dalam larutan. Selain itu, beberapa jam setelah sianida dimasukkan, kelarutan logam yang terkandung dalam pulp/lumpur mulai meningkatkan tekanan permukaan larutan, sehingga menyulitkan oksigen untuk larut ke dalam larutan, Naiknya tekanan permukaan tersebut disebabkan larutan garam kompleks logam memiliki tekanan yang cukup tinggi. dimana makin tinggi konsentrasi logam yang terlarut juga akan mendesak oksigen dari larutan tersebut. Seiring lamanya waktu pelarutan juga akan menurunkan jumlah oksigen yang terlarut. Demikian juga semakin banyaknya logam yang terlarut juga akan menurunkan konsentrasi oksigen yang terlarut. Penurunan oksigen terlarut dapat menyentuh angka 0 ppm, di mana pada posisi ini pelarutan akan melambat dan pada akhirnya berhenti.

    Untuk menjaga kecukupannya tentu dibutuhkan penambahan oksigen. Penggunaan oksigen dari udara bebas dengan cara aerasi adalah agen pengoksidasi paling mudah diterapkan. Caranya adalah dengan menyuntikkan udara dengan tekanan tinggi ke dalam lumpur menggunakan kompresor. Namun mungkin pada kondisi tertentu dimana pH cukup tinggi, cara tersebut kurang efektif karena oksigen yang terlarut relatif sedikit sehingga diperlukan penambahan oxidizing agents untuk memperkuat proses oksidasi. Oxidizing agents yang biasa digunakan antara lain Potassium Ferricyanide (K3Fe(CN)6), Potassium Permanganate (KMNO4) , Ozone (O), Sodium Peroxide (Na2O2), Calcium Peroxide (CaO2), dan Acetone. Namun oksidator yang sering digunakan adalah Hydrogen Peroxide/Hidrogen peroksida (H2O2), selain pertimbangan mudah penggunaannya, bahan ini mudah diperoleh di pasaran dengan konsentrasi 30% dan relatif murah dibandingkan dengan oksidator lainnya.

Hydrogen Peroksida

    Hydrogen Peroxide / Hidrogen peroksida (H2O2) sebagai prekursor oksigen menjadi alternatif untuk pengganti oksigen atmosfer sebagai hasil dekomposisi peroksida pada proses sianidasi emas. Oksigen ini yang nantinya berperan sebagai agen pengoksidasi untuk emas. Penambahan hidrogen peroksida (H2O2) sebagai agen pengoksidasi dengan volume yang tepat dapat membuat laju proses sianidasi lebih cepat. Namun sebaliknya, penggunaan Hydrogen Peroksida (H2O2) yang tidak tepat pada saat proses leaching berlangsung  justru akan sangat merugikan. Karena komposisi yang tidak tepat  bisa memicu reaksi lokal yang dapat menyebabkan cyanide berubah menjadi cyanate (OCN-).

    H2O2 + CN- →  OCN- + H2O

    PERHATIAN : Hydrogen Peroksida (H2O2) adalah oxydizer yang sangat kuat yang dapat menimbulkan ledakan dan kebakaran bila kontak dengan bahan organik seperti kayu. Oleh karenanya, tempat penyimpanan maupun perlengkapan yang digunakan harus sesuai peruntukannya.

    Oksigen terlarut dapat dianalisis atau ditentukan dengan 2 metoda, yaitu :
    a. Metoda titrasi dengan cara WINKLER
    Metoda titrasi
    dengan cara WINKLER secara umum banyak digunakan untuk menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Dengan menggunakan botol winkler, diperlukan air sampel sebanyak 300 ml atau 60 ml. Tidak boleh ada udara yang terperangkap dalam botol, caranya botol sampel harus berada di bawah permukaan air. Agar tidak ada gelembung udara yang terjebak, isi penuh dengan air hingga meluber saat ditutup. Kemudian sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 den Na0H - KI, sehingga akan terjadi endapan Mn02. Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar Natrium Thiosulfat (Na2S203) dan menggunakan indikator larutan amilum ( kanji ). Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan sebagai berikut :

    MnCI2 + NaOH  →  Mn(OH)2 + 2 NaCI

    2 Mn(OH)2 + O2  →  2 MnO2 + 2 H20

    MnO2 + 2 KI + 2 H2O  → Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH

    I2 + 2 Na2S2C3   →  Na2S4O6 + 2 NaI

    b. Metoda elektrokimia
    Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan  anoda yang direndam dalarn larutan elektrolit. Pada alat DO meter, probe ini biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda timbal (Pb). Secara keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen. Reaksi kimia yang akan terjadi adalah :

    Katoda : O2 + 2 H2O + 4-  → 4HO-

    Anoda : Pb + 2 HO-  → PbO + H2O + 2e-

    Aliran reaksi yang terjadi tersebut tergantung dari aliran oksigen pada katoda. Difusi oksigen dari sampel ke elektroda berbanding lurus terhadap konsentrasi oksigen terlarut.

alat DO meter

    Penentuan oksigen terlarut ( DO ) dengan cara titrasi berdasarkan metoda WINKLER lebih analitis apabila dibandingkan dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi iodometri ialah penentuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan Thiosulfate dan pembuatan larutan standar Kalium Bichromate yang tepat. Dengan mengikuti prosedur penimbangan kaliumbikromat dan standarisasi tiosulfat secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih akurat. Sedangkan penentuan oksigen terlarut dengan  cara DO meter, harus diperhatikan suhu dan salinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter. Disamping itu, sebagaimana lazimnya alat yang digital, peranan kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan.

     

     

    Sebelumnya / Hal 02 / Selanjutnya

     

 

 

 

Bila larutan dalam lumpur (pregnat leach solution/PLS) sudah terindikasikan adanya emas yang terlarut dapat segera dimasukkan karbon aktif. Memasukkan karbon pada saat yang tepat juga merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan oksigen terlarut. Terabsopsinya senyawa logam kompleks ke dalam karbon akan menurunkan tekanan permukaan larutan, sehingga oksigen dapat terlarut dalam lumpur. Namun demikian, penggunaan karbon sebaiknya juga tidak berlebihan, sebab bila berlebih juga akan menyerap sianida sehingga hal ini tentu juga sangat merugikan dalam proses leaching. Indikasi penggunaan karbon berlebih dapat dideteksi dengan naiknya oksigen terlarut jauh di atas 16 ppm.

 


 

Recent Search Terms :

PROSPECTORunited.com,  Negri Penambang, pertambangan emas,  tambang emas rakyat, gold rush, pemburu emas, penambang emas, informasi teknologi tambang, pengolahan mineral, teknologi pengolahan emas, teknologi tambang emas, proses mengolah emas dan perak.


Popular Search Terms :

pengolahan mineral, BUKU PERTAMBANGAN, tehnologi tambang, TAMBANG EMAS, lokasi tambang emas, pemburu emas, Carbon In Pulp, GOLD MINNING, GOLD REFINNING, tehnologi pertambangan, mengolah perak, jual beli emas, mendulang emas, metode CIP,


Random Search Terms :