-
Alkalinity ( pH tinggi )
Kondisi alkalin (pH tinggi / basa) saat
berlangsungnya proses sianidasi sangat menentukan keberhasilan proses
sianidasi.
Jika pH terlalu rendah / asam, senyawa NaCN mudah berubah
bentuk menjadi asam sianida (HCN) yang sangat beracun dan mudah menguap
akibat proses hidrolisis. Pembentukan HCN dari NaCN dapat terjadi karena
adanya absorpsi CO2
dari udara, menurut reaksi berikut :
CO2 + H2O
→ H2CO3
H2CO3
+ CN- → HCN + (HCO3)-
Untuk mencegah larutan sianida terdekomposisi menjadi asam
sianida maka konsentrasi hydrogen (H+)
harius diturunkan serendah mungkin dengan menambahkan caustic soda
(NaOH) atau kalsium oksida (CaO). Penambahan reagen kimia tersebut akan
menekan konsentrasi hydrogen bebas dalam larutan, sehingga tentu saja akan
menaikkan pH larutan.
Namun, bila pH terlalu tinggi akan menyebabkan proses
sianidasi berlangsung lambat, hal ini dikarenakan sianida menjadi terlalu
stabil dalam pulp. Selain itu dengan terlalu rendah atau terlalu tinggi akan
menyebabkan logam-logam lain akan larut dalam sianida yang membentuk senyawa
kompleks sehingga turut terserap oleh karbon aktif.
Untuk membuat kondisi optimal, larutan
dijaga pada pH 10 - 11 dengan mengggunakan kapur sebagai pH
Modifier. Kapur aktif / kapur tohor (CaO) lebih reaktif menaikan pH
sehingga kebutuhannya sedikit. Namun Kapur Hydroksida/kapur sirih
(CaOH) juga dapat digunakan. Ketika memasukkan kapur hendaknya dilakukan di
atas saringan 50 mesh agar kotoran atau batuan kapur yang besar tidak ikut
masuk dalam tong. Selain kapur, pH Modifier
lainya adalah
Soda Api/Coustic Soda / Sodium Hydroxide (NaOH) atau
Soda Abu (Na2CO3).
Pastikan pH 10 - 11 untuk mengantisipasi agar NaCN
tidak berubah menjadi gas HCN yang sangat berbahaya (dosis 60 mg
HCN dapat membunuh manusia). Dimana pada kondisi pH 9.3,
konsentrasi sianida dapat berkurang hingga 50% karena
menguap menjadi gas HCN, bahkan sianida berubah menjadi 99% HCN
pada pH 7. Selain gas ini sangat berbahaya tentu mengurangi
jumlah NaCN yang larut dalam pulp/slurry sehingga kemampuannya
untuk melarutkan emas juga berkurang.
Pengukuran kondisi pH dapat diukur dengan beberapa
cara. Secara kualitatif pH dapat diperkirakan dengan kertas Lakmus
(Litmus) atau kertas indikator pH. Secara kuantitatif pengukuran
pH dapat digunakan elektroda potensiometrik. Elektroda ini memonitor
perubahan voltase yang disebabkan oleh perubahan aktifitas ion hidrogen
( H+ ) dalam larutan. Elektroda pH yang paling modern terdiri
dari kombinasi tunggal elektroda referensi (reference electrode) dan
elektroda sensor (sensing electrode) yang lebih mudah dan lebih murah
daripada elektroda tepisah. Elektroda kombinasi ini mempunyai fungsi
yang sama dengan elektroda pasangan.
-
Oxygen Redox Potential (ORP).
Oxygen Redox Potential (ORP) berbanding terbalik terhadap ukuran pH
larutan. Pada pH di bawah 7, nilai ORP akan berada pada kisaran positif.
Makin rendah pH maka makin tinggi ORP-nya. Pada pH 7, ORP-nya akan memcapai
titik netral (0), kenaikan pH selanjutnya akan menurunkan ORP pada angka
negartif. Pengukuran kondisi Oxygen Redox
Potential (ORP) dapat diukur dengan ORP meter.

ORP pelarutan terjadi pada kisaran (-) 200 mV s/d (-) 350
mV, sedangkan ORP pelarutan optimum terjadi pada kisaran antara (-) 230 mV
hingga (-) 325 mV. Apabila ORP berada di atas (-) 325 mV akan menpercepat
proses pelarutan logam-logam pengganggu, sehingga mengakibatkan peningkatan
konsumsi sianida.
-
Free Cyanide
Pelarut yang biasa digunakan dalam proses sianidasi adalah Sodium
Cyanide
(NaCN), Potassium Cyanide (KCN) ,
Calcium Cyanide [Ca(CN)2],
atau
Ammonium Cyanide (NH4CN).
Namun pelarut yang paling sering digunakan adalah NaCN, karena mampu
melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya.
Konsentrasi sianida jika terlalu rendah reaksinya
tidak optimum sehingga emasnya tidak terlarut menjadi
emas-sianida. Jika terlalu tinggi akan bereaksi terhadap logam lain
sehingga emas tidak banyak terserap oleh karbon aktif. Selain itu gunakan
jenis sianida yang baik.
Sianida dapat bereaksi dengan unsur selain emas,seperti
tembaga, besi, perak, dan merkuri. Ketika sianida bereakasi dengan zat
tersebut, maka akan mengurangi sianida yang tersedia untuk melarutkan emas.
Sehingga terkadang diperlukan sianida yang lebih banyak untuk melarutkan.
Bijih tembaga dengan mineral seperti malachite dan azurite menyebabkan
masalah besar karena mineral tersebut bereaksi dengan cepat dengan sianida.
Oleh karenanya, perlu dijaga kebutuhan ideal free
cyanide. Free cyanide bukanlah cyanide consumtion (jumlah sianida yang
dipakai) tetapi sianida yang masih bebas (belum terikat dengan mineral lain)
dan belum berubah menjadi Thiocyanate (SCN
-). Untuk itu perlu diketahui berapa
free cyanide (FCN), total cyanide (TCN), cyanate
(OCN), dan Thiocyanate-nya (SCN-)
Metode paling umum dipakai adalah titrasi Argentometri yaitu
reaksi pengendapan dengan ion perak menggunakan
Silver Nitrate (AgNO3)
di mana reaksi yang terjadi adalah :
2KCN + AgNO3
→ AgKCN2 + KNO3
2NaCN + AgNO3 → AgNaCN2
+ NaNO3
Dalam metode titrasi ini, zat yang ditentukan bereaksi
dengan zat pentiter membentuk senyawa yang sukar larut dalam air. Sehingga
kepekatan zat yang ditentukan itu berkurang selama berlangsungnya proses
titrasi. Perubahan kepekatan itu diamati dekat titik kesetaraan dengan
bantuan indikator atau peralatan yang sesuai. .